Pada bagian ini kita akan menyinggung topik yang
kontroversial karena melibatkan sosok Bung Karno. Bung Karno diakui memiliki banyak pemujanya.
Dan sekiranya anda adalah salah satu pemujanya yang fanatik dan tidak punya
toleransi sama sekali. Sebaiknya anda tidak usah membaca bagian ini. Mungkin
anda akan tersinggung.
Pada jaman imperium Romawi dikenal istilah bread and circus,
(panem et circenses), roti dan sirkus. Politikus pada dasarnya manusia yang
menyukai kekuasaan dan harta serta menjadikan kariernya sebagai pengejar kekuasaan
dan harta. Politikus untuk bisa meraih dan mempertahankan posisinya akan
memberi massa pendukungnya makanan dan sirkus pertunjukkan di panggung politik.
Dan sirkus adalah keahlian Sukarno. Kalau pada saat ini anda bisa mendengarkan
pidato-pidato Sukarno melalui Youtube. Saya sarankan anda untuk mendengarkannya
dan menilai kepiawaian Sukarno dalam memukau para pendengarnya. Ibarat seorang
penjual, Sukarno mempunyai kepiawaian menjual kulkas kepada orang eskimo, atau
menjual tahi ayam seharga coklat. Ini adalah pujian dari saya. Bukan suatu
hinaan.
Tonggak sejarah Orde Lama dimulai dari Dekrit 5 Juli 1959.
Pada masa ini secara defacto Sukarno menjadi penguasa tunggal. Campur-tangan
pemerintah terhadap ekonomi semakin merajalela. Seperti yang telah dibahas pada
bab sebelumnya, bahwa campur tangan pemerintah hanya akan memperparah ekonomi.
Selama periode ini pertumbuhan ekonomi menjadi negatif. Inflasi tinggi dan
akhirnya rejim Sukarno ditumbangkan.
Pernahkan anda bertanya kenapa di dalam buku-buku sejarah
periode 1959 – 1966 disebut jaman Orde Lama? Seandainya Sukarno diberi
kesempatan memberi nama periode sejarah antara tahun 1959 – 1966 ini, mungkin
dia akan menamakannya jaman Kembali ke Semangat 45, atau jaman Revolusi
Berdikari, atau nama lainnya yang megah. Tetapi di dalam buku sejarah resmi,
nama Orde Lama melekat untuk pemerintahan periode 1959 – 1966 ini.
Kata Orde Lama terdengar berkonotasi sangat negatif.
Sebabnya karena nama ini diberikan oleh rejim sesudahnya, rejim Suharto, yang
patut diduga berusaha mengoleskan citra buruk kepada pendahulunya. Dan untuk
periodenya sendiri, Suharto menyebut Orde Baru, suatu pemilihan kata yang
berkonotasi positif dan kontras dengan Orde Lama yang digantikannya. Cara
pencitraan seperti ini sama halnya dengan menyebut jaman penjajahan Belanda
untuk jaman pemerintahan Hindia Belanda. Pada hakekatnya massa berpikir
sederhana. Ketika mendengar nama yang berkonotasi negatif yang dikontraskan
dengan yang positif, maka penyandang nama itu identik dengan jahat dan buruk.
Jadi ketika orang mendengar kata Orde Lama atau penjajah Belanda, maka
persepsinya mengenai rejim Orde Lama dan pemerintahan penjajah Belanda adalah
jahat dan buruk. Padahal kalau dilihat dari data-data, belum tentu mereka ini
seburuk namanya.
Awal jaman Orde Lama dimulai dengan kekisruhan politik dan
ekonomi di penghujung dekade 1959an. Buku sejarah yang resmi akan mengatakan
bahwa ada kegagalan Konstituante membentuk undang-undang dasar. Hal inilah yang
memberi dalih kepada presiden Sukarno untuk memperkuat posisinya menjadi
penguasa tunggal. Dikeluarkanlah Dekrit 5 Juli 1959 yang isinya pembubaran
parlemen hasil pemilihan umum yang demokratis yang bernama Kostituante itu, dan
akan diikuti dengan pembentukan lembaga legislatif sementara (Majelis Permusyawaratan
Rakyat Sementara - MPRS dan Dewan Perwakilan Rakyat Sementara – DPRS atau DPR
Gotong Royong) tanpa proses yang demokratis.
Dekrit 5 Juli ini essensinya adalah pengambil alihan
kekuasaan parlemen oleh Sukarno dan menggantikannya dengan parlemen yang
diharapkan bisa dikontrolnya. Seandainya ada niat, Sukarno bisa membiarkan
parlemen yang masih ada dan melakukan pemilihan umum untuk membentuk palemen
baru. Tetapi niatnya memang bukan itu. Niat sesungguhnya hanya dia yang tahu.
Akan tetapi yang bisa kita lihat adalah tindakan selanjutnya Arah dan sasaran
tertuju kepada pemerintahan otoriter dengan penguasa tertingginya adalah
presiden. Sistem negara berubah, tetapi namanya masih menggunakan kata
demokrasi, yaitu demokrasi terpimpin. Kendatipun tidak ada yang dipilih
langsung oleh rakyat, apakah itu presidennya ataupun perwakilan rakyatnya (MPRS
dan DPRGR), sistem ini disebut demokrasi .........terpimpin. Semuanya harus
terpimpin oleh Panglima Tertinggi ABRI, mandataris MPRS, presiden, pemimpin besar
revolusi.
Dekrit 5 Juli 1959 ini diikuti dengan tindakan-tindakan
drastis dibidang ekonomi oleh Sukarno. Kata demokrasi terpimpin menjadi
populer. Ekonomipun harus berlandaskan demokrasi terpimpin. Ketika sistem BE
dihapus pada bulan Agustus 1959, beberapa poin penting dijabarkan di dalam
Penjelasan Peraturan Pemenerintah Pengganti Undang-Undang no. 4 1959, tentang
warna ketidak-bijaksanaan ekonomi.
Secara prinsipil sistim tersebut, dimana nilai mata uang
rupiah terhadap mata
uang asing ditetapkan oleh imbangan penawaran dan permintaan
B.E., walaupun
misalnya perkembangannya tidak diganggu oleh berbagai macam
spekulasi dan
gerak-geriknya perdagangan abnormal, sesungguhnya tidak
sesuai dengan alam pikiran ekonomi terpimpin, dimana Pemerintah mengambil peranan
yang lebih aktip dan lebih menentukan.
Untuk beberapa jenis barang ekspor memang terdapat
disparitet antara harga dalam negeri dan penerimaan dalam rupiah sebagai hasil
ekspor, walaupun sebagian dari perbedaan ini disebabkan pula oleh faktor
spekulasi, dan bukan oleh tingkat harga upah dan bahan keperluan untuk
memprodusir barang ekspor itu.
Kata kunci yang perlu diingat adalah “Pemerintah mengambil
peranan yang lebih aktif dan lebih menentukan” yang mana akan menjadi ciri dari
periode Orde Lama ini. Dan kita tahu dari bab sebelumnya bahwa semakin banyak
campur tangan pemerintah maka akan semakin sulit ekonomi bergerak untuk maju.
Jadi bisa dipastikan bahwa sepanjang pemerintahan Sukarno ekonomi akan
terhambat.
Sebagai
orang yang terlahir dengan talenta untuk mampu membius para
pendengarnya, Sukarno mengerti sekali bagaimana membuat bius tersebut
kian melekat dibenak para pendengarnya. Sukarno memajang foto dirinya
disetiap lembar kertas mata uang yang diterbtkan pemerintah. Mulai dari
lembar dengan nominal terkecil hingga nominal terbesar foto diri Sukarno
terpajang sehingga nama dan wajahnya akan tetap melekat dibenak rakyat
yang mayoritas masih bodoh dan buta huruf dimasa itu.
Selanjutnya setelah Dekrit 5 Juli, dengan cepat Sukarno
bergerak ke bidang ekonomi. Pada tanggal 24 - 25 Agustus 1959 beberapa
peraturan pemerintah penggati undang-undang dikeluarkan. Isinya tentang:
-Pembubaran Bukti Ekspor (Undang-Undang no. 4 Prp, tahun
1959).
-Sanering uang pecahan Rp 500 dan Rp 1000, masing-masing
menjadi Rp 50 dan Rp 100 (Undang-Undang (UU) No. 2 Prp. tahun 1959)
-Pembekuan simpanan giro dan deposito sebesar 90% dari
jumlah di atas Rp 25.000 dan digantikan dengan surat hutang (Undang-Undang (UU)
No. 3 Prp. tahun 1959) --Rupiah didevaluasi dari Rp 11,40 menjadi Rp 45 per
dollar Amerika (Peraturan Pemerintah Nomor 43, tahun 1959).
Orang waras yang naif pasti tidak habis pikir apa yang
melandasi keputusan pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No. 3 Prp. tahun
1959. Tindakan pemerintah membekukan 90% semua rekening giro dan deposito di
atas Rp 25.000 adalah absurd menurut pandangan setiap orang pada jaman
sekarang. Nilai Rp 25.000 pada jaman itu kira-kira 492 gram emas, kalau
mengikuti nilai tukar resmi Rp 45 per dollar dan $35 per oz emas. Nilai 492
gram emas tidaklah tinggi sebagai ambang batas tabungan yang terkena penyitaan
ini. Saya tidak bisa membayangkan kalau hal ini dikenakan juga kepada
perusahaan. Operasinya bisa mandeg, karena kurangan dana. Apa yang terjadi saat
itu, sangat menarik untuk diteliti.
Hal kedua yang tidak sukar dicerna, kenapa rakyat tidak ada
yang protes dan melakukan demostrasi ketika rekening giro dan depositonya
dibekukan. Hal ini tidak pernah dijumpai dalam catatan sejarah. Apakah ini
karena kelihaian Sukarno mempengaruhi massa? Atau tidak banyak orang punya
rekening giro dan deposito sehingga suaranya tidak terdengar. Mempunyai
rekening bank baru membudaya setelah tahun 1970an. Jadi ada kemungkinan hanya
kalangan terbatas saja yang mempunyai rekening giro dan deposito. Dan mereka ini
menjadi golongan yang teraniaya.
Terlepas dari kerelaan masyarakat pada waktu itu, ini adalah
contoh bahwa pemerintah, pemimpin yang anda kagumi mampu berbuat yang
sewenang-wenang, terutama kepada minoritas. Mohammad Hatta memulainya dengan
menganjurkan kepada rakyat Indonesia untuk megunakan rupiah (tanggal 30 Oktober
1946) di RRI – Radio Republik Indonesia. Dan 13 tahun kemudian, Sukarno,
partnernya, memenggal mereka yang punya tabungan rupiah. Uang yang dibekukan
itu di tahun 1959 itu, 8 tahun kemudian menjadi tidak berarti karena dimakan
oleh inflasi yang menggila (hiper-inflasi 1966 – 1967). Alangkah besarnya
pahlawan-pahlawan ini. Ini suatu pelajaran yang harus kita ingat. Pemerintah
kalau bisa mengambil hasil keringat anda dengan kerelaan anda. Kalau tidak
bisa, maka jalan lain akan dicari. Sejarah akan terus berulang.
Kembali ke masalah sirkus. Sukarno sangat imajinatif dalam
melahirkan ide-ide politik, ekonomi dan budaya. Dengan karismanya, ia mampu
mempengaruhi massa, individual termasuk juga wanita. Sampai saat ini banyak
orang mengagumi Sukarno karena ide-ide politiknya. Programnya dikenal dengan
nama Trisakti yaitu: Berdaulat di bidang Politik, Berdikari di bidang Ekonomi,
Berkepribadian di bidang Budaya. Beberapa lain yang sangat terkenal adalah
Pancasila, Marhaenisme, Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis), Manipol- USDEK
(Manipol = Manifesto Politik; USDEK = UUD 44, Sosialisme Indonesia, Demokrasi
Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia). Setiap peringatan
kemerdekaan Sukarno (hampir) selalu mengeluarkan satu akronim baru. Jarek
(Jalan Revolusi Kita), Tavip (Tahun Vivere Pericoloso = Tahun
menyerempet-nyerempet bahaya), Jas Merah (Jangan Lupakan Sejarah), Resopim
(Revolusi, Sosialisme dan Pimpinan), Gesuri (Genta Suara Revolusi Indonesia),
Ganefo, Conefo, dan lain sebagainya. Semuanya bertema sama, yaitu condong pada
sosialisme dan kontrol yang terpusat.
Diantara
semua ide-idenya, Pancasila menjadi sesuatu yang kontroversial,
sebabnya karena usulan tertulis yang diajukan Sukarno pada sidang BPUPKI
pada tanggal 1 Juni 1945 sangat berbeda jauh dengan Pancasila yang
tercantum sebagai Dasar Negara Indonesia. Penempatan azas Ketuhanan
sebagai azas terakhir seolah mengajarkan bangsa Indonesia untuk
mengingat Tuhan setelah semua keinginan dan cita-cita bangsa sudah
tercapai. Bandingkan dengan usulan yang diajukan prof Mohammad Yamin
yang menempatkan azas Ketuhanan pada bagian awal dari semua azas.
Mengenai penempatan azas-azas ini sudah pernah dijabarkan Prof Moh Yamin
bahwa semua harapan dan cita-cita manusia haruslah dilandasi oleh ridho
dan kemuliaan Sang Pencipta. Mengenai
Pancasila, masih banyak orang tahu, karena ide ini dijadikan landasan
ideologi
negara Indonesia. Bahkan di jaman Orde Baru Suharto, Pancasila dijadikan
satu-satunya ideologi di Indonesia. Dan semua pegawai negri serta
pegawai
perusahaan-perusahaan yang ada kaitannya dengan pemerintah diwajibkan
mengikuti
penataran P4 (Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila).
Pancasila yang terdiri dari lima baris kalimat tak lengkap,
tidak mempunyai makna apa-apa kalau tidak ditafsirkan. Kalimat yang lengkap
saja masih bisa ditafsirkan berbeda-beda, apalagi yang tidak lengkap. Ambillah
contoh sila pertama, ketuhanan yang maha esa. Apakah kata maha esa berarti
“besar” dan “tunggal” (maha = besar, esa = tunggal) atau “sangat tunggal”.
Pengertian “sangat tunggal” tentunya tidak mungkin, karena kata tunggal atau
satu, 1, tidak mempunyai sifat gradasi. Dengan kata lain 1,0028 bukanlah satu.
Demikian juga 0,99986. Padahal pengertian inilah yang dimengerti banyak orang.
Jangan heran kalau berbagai konsep ketuhanan yang saling berbeda (bertolak
belakang) bisa mengaku sejalan dengan Pancasila.
Sukarno dan Marhaenisme adalah dua hal yang tidak bisa
dipisahkan. Menurut cerita Sukarno tahun 1926 - 1927 pernah bertemu dengan
petani di Cigareleng yang bernama pak Marhaen yang mewakili sosok petani
rata-rata Indonesia. Mereka ini walaupun memiliki tanah sendiri, yang
dikerjakan sendiri dengan memakai alat-alat produksi milik sendiri, namun tetap
saja miskin. Menurut intepretasi sejarawan dan ahli politik bahwa Soekarno
berpendapat kaum marhaen ini secara sistemik dan struktural telah dimelaratkan
oleh sistem kapitalisme, imperialisme, kolonialisme dan feodalisme. Kemungkinan
intepretasi sejarawan dan ahli politik seperti ini salah besar. Teladan yang
diberikan oleh Sukarno adalah punya istri 4 dalam suatu masa dan salah satu
diantaranya adalah wanita asing yang sangat cantik. Sukarno beberapa kali
kawin-cerai, dan seringnya punya istri 4 orang. Salah satu istrinya yang
bernama Indonesia Ratna Sari Dewi, wanita belia cantik berasal dari Jepang yang
dikenalnya pertama kali di sebuah klub malam mewah Akasaka’s Copacabana. Ketika
dinikahi tahun 1962, Dewi berumur kurang lebih umur 22 tahun. Kecantikan Ratna
Sari Dewi sedemikian hebatnya terbukti pada umur 53 tahun, dia membuat buku
yang laku keras, berjudul Madam Syuga (1993), yang isinya adalah foto-foto
artistik semi bugil. Pada umur 53 tahun dia masih bisa menjadi model
semi-bugil, kalau bukan karena kecantikannya, maka tidak akan pernah bisa
terwujud.
Tidak
hanya itu, Sukarno sebagai bapak marhaenisme juga
mampu menaklukkan hati seorang gadis kelas II SMA yang masih berumur
17an
tahun. Namanya Yurike Sanger yang kemudian menjadi istrinya tahun 1964
ketika
Sukarno berumur 63 tahun. Sebagai seorang pemimpin bangsa, pemimpin
revolusi, panglima tertinggi ABRI, sebagai bagian dari The Founding
Fathers, seharusnya Sukarno memberikan pengajaran yang baik bagi
generasi muda bangsa bukannya menjadikan mereka sebagai alat pemuas
hasrat birahi atau menjadikan mereka sebagai boneka cantik yang harus
dipajang sebagai koleksi disalah satu istananya yang dibangun dengan
uang milik rakyat Indonesia. Tapi itulah keinginan Sukarno dengan Dekrit
1959nya yang menempatkan dirinya sebagai pemimpin satu-satunya yang
harus dituruti.
Kalau seandainya pak Marhaen mempunyai cita-cita untuk beristri
4 dan salah satunya adalah wanita asing yang cantik dan gadis remaja, maka dia
akan terpicu untuk berusaha yang lebih keras lagi di dalam hidupnya. Seorang
wanita asing cantik dari negara maju dan gadis remaja tidak akan mau dengan
petani setengah baya yang hidupnya pas-pasan. Mungkin, itulah yang dimaksud
oleh teladan yang diberikan oleh Sukarno. Jadilah orang kaya. Atau itu hanya
sarkasme saya.
Dalam usaha menyediakan roti, sekaligus bermain sirkus,
Sukarno menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda. Dan kemudian pembentukan
Land-reform 1960 yang membatasi kepemilikan tanah pertanian 5 sampai 20 hektar
saja. Yang 20 hektar adalah untuk tanah kering di daerah yang jarang penduduk
dan yang 5 hektar adalah untuk tanah sawah di daerah padat penduduk seperti
Jawa. Ini adalah cermin dari visi Sukarno yang katanya kerakyatan, sosialis dan
kontrol terpusat. Disini Sukarno agak berkontradiksi dengan dirinya sendiri.
Dengan sawah yang dibatasi hanya 5 hektar, mana bisa seorang petani Marhaen
menjadi kaya, sehingga bisa menarik perhatian seorang wanita Jepang yang cantik
seperti Ratna Sari Dewi? Dengan hasil panen dari 5 hektar ladang, akan sulit
bagi pak Marhaen untuk mencicil traktor dan peralatan pertanian moderen kecuali
kalau yang ditanamnya adalah tanaman eksotik dan mahal seperti ganja atau
candu. Dengan kata lain, pak Marhaen tetap tidak bisa kaya kalau dia tidak mau
menjadi kriminal, karena ruh sosialisme mencegah orang untuk makmur dan kaya.
Nasionalisasi adalah suatu langkah yang salah dan Berdikari
membawa kesengsaraan. Massa mempunyai cara berpikir yang sederhana. Kapitalis
dan imperialis dicitrakan jahat maka jahatlah inperialis dan pemerintah
dicitrakan baik, maka baiklah ia. Kalau sektor-sektor penting dinasionalisasi,
maka kemakmuran dan kesejahteraan rakyat akan meningkat. Teorinya seperti itu.
Sayangnya realita tidak sesederhana itu. Menjalankan sebuah perusahaan mudah,
tetapi untuk membuatnya hidup, memerlukan keterampilan. Banyak dari
perusahaan-perusahaan yang dinasionalisasi akhirnya menciut terus dengan
berjalannya waktu pamornya meredup. Ada yang cepat meredupnya dan ada yang
lambat serta ada pula yang hidup terus. Perkebunan pala dan cengkeh, nampaknya
pamornya sudah hilang. Sedang perkebunan teh, sawit dan karet, masih berkibar,
walaupun lahannya sudah berubah fungsi menjadi perumahan seperti Pondok Indah,
Cibubur dan Bumi Serpong Damai, di sekitar Jakarta.
Seperti kereta api, perusahaan dari sektor yang berkembang
pesat dimasa jaman Normal, jaringannya mencapai Jawa Sumatera, Kalimantan dan
Sulawesi. Perusahaan kereta api yang dinasionalisaasi semakin lama semakin
menciut jumlah lokomotifnya dari 1.314 (di tahun 1939) menjadi 530 (tahun 2000)
dan jaringan relnya dari 6.811 km (tahun 1939) menjadi 4030 km (tahun 2000).
Asetnya tercecer. Permasalahan ini terus berlanjut terus. Tahun 2008, KPK
(Komisi Pemberantasan Korupsi) melaporkan banyak asset-asset perusahaan kereta
api yang dikuasai secara pribadi oleh petinggi-petinggi perusahaan. Entah
bagaimana nasib asset-asset yang jaringannya dimatikan, termasuk
stasiun-stasiun kecilnya, relnya, tanahnya.
Setelah sekian lama, menurut cerita, tahun 2007
perusahaan-perusahaan hasil nasionalisasi atau hasil bentukan kerja-sama
Indonesia-Belanda yang kemudian dijadikan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mau
ditutup jika masih merugi tahun 2009. Dan berikut ini kutipan berita itu:
Kantor Kementerian Negara BUMN memperketat pengawasan atas
implementasi lima strategi kebijakan untuk memperbaiki kinerja delapan badan
usaha milik negara
(BUMN) sektor manufaktur yang masih rugi. Ditargetkan pada
2009 BUMN yang bermasalah tersebut mampu menghasilkan laba.
Berdasarkan data Kantor Kementerian Negara BUMN, delapan
BUMN manufaktur yang masih rugi pada tahun buku 2006 adalah PT Kertas Leces, PT
Krakatau Steel, PT PAL Indonesia, PT Iglas, PT Dok & Perkapalan Kodja
Bahari, PT Industri Sandang Nusantara, PT Boma Bisma Indra dan PT Inka.
Menteri Negara BUMN Sugiharto menjelaskan strategi kebijakan
yang akan ditempuh untuk meningkatkan kinerja BUMN sektor manufaktur adalah
mempercepat penyelesaian program restrukturisasi korporat dan keuangan,
meningkatkan produktivitas dan efisiensi di bidang produksi, melakukan sinergi
antar-BUMN terkait, serta menerapkan sistem manajemen risiko dan memperketat
pelaksanaan good corporate governance (GCG).
Cerita tinggal cerita. Liability sering dianggap barang
antik yang perlu dikenang nilai-nilai historisnya dan birokrat juga bukan
pembisnis yang bisa mengambil keputusan bisnis. Sampai tahun 2010, belum ada
BUMN sakit yang ditutup. Pabrik kertas Leces dan Padalarang yang namanya selalu
tercantum di buku pelajaran sekolah dasar di jaman Orde Lama, beritanya tahun
2010 adalah salah satu yang terbelit hutang dan menjalani proses penyehatan.
Padahal, menurut cerita Portal Nasional Republik Indonesia di atas, sudah akan
ditutup tahun 2009. Inti cerita ini ialah, bahwa nasionalisasi perusahaan
swasta adalah langkah yang salah karena akan membebani pembayar pajak. Tujuan
awalnya tidak akan tercapai. Itu pelajaran dari sejarah.
Kembali pada masalah nasionalisasi tahun 1960an lagi. Yang
mengalami nasionalisasi tidak hanya perusahaan Belanda, tetapi juga perusahaan
milik pengusaha Cina, OTHC, Oei Tiong Ham Concern, perusahaan dagang milik
keluarga Oei Tiong Ham, raja gula tahun 1920an dari Semarang. Perusahaan ini
kemudian berubah nama menjadi PT Rajawali Nusantara Indonesia (2001). Yang
menarik dari PT Rajawali ini, menurut websitenya, selama periode 1964 – 1985
mejalani fase konsolidasi. Jadi selama 21 tahun perusahaan ini berjalan
ditempat. Ini adalah gambaran umum tentang proses nasionalisasi perusahaan di
bumi Indonesia. Ceritanya tidak seindah konsep awalnya bahwa
perusahaan-perusahaan ini akan membawa manfaat kalau dinasionalisasi. Benda
mati bisa dinasionalisasi, sedangkan asset yang hidup, manusianya, tidak bisa
dan malah didepak keluar karena bagian dari anasir asing. Keluarnya jajaran
atas staf perusahaan-perusahaan yang dinasionalisasi membawa serta pengetahuan
dan koneksi dengan dunia bisnis. Akibatnya asset mati yang dinasionalisasi
menjadi liability karena salah urus.
Ketidak-bijakan berdikari juga membawa dampak pada swasta.
Pabrik-pabrik yang memerlukan bahan baku, bahan pembantu dan suku cadang mesin
dari luar negri mengalami hambatan pasokan. Mesin produksi tersendat. Dan
ekonomi mengalami kontraksi berkepanjangan. Ini merupakan kontraksi ekonomi
yang panjang dalam sejarah Indonesia yang bisa dicatat.
Sirkus tanpa lagu, akan terasa pincang. Pemilihan lagu yang
tepat akan membantu mempopulerkan gagasan-gagasan Sukarno. Dan Sukarno memilih
lagu-lagu mars yang bersemangat. Tema lagu tahun 1960 – 1966 di Indonesia
didominasi dengan tema perjuangan, revolusi dan pemujaan pada pahlawan; pendek
kata semuanya progressif revolusioner. “Acungkan tinju kita – Nasakom bersatu”,
“Lagu untuk paduka yang mulia Sukarno”, “Bulat semangat tekad kita – Ini
dadaku”, adalah sebagian dari tema lagu jaman Orde Lama. Padahal di dunia pada
saat itu yang populer adalah lagu-lagu ceria, rock & roll dan lagu-lagu
lembut the Beatles pada periode 1963 - 1966. Di puncak kekuasaan Sukarno
lagu-lagu populer the Beatles yang dijuluki Sukarno sebagai musik
ngak-ngik-ngok, jarang diperdengarkan. Dan group band Koes Bersaudara yang
lagu-lagunya masuk kategori ngak-ngik-ngok, ditangkap dan dipenjara pada bulan
Juli 1965, karena selera musiknya tidak sesuai dengan selera Sukarno. Mereka
baru dilepaskan akhir Agustus 1965.
Sirkus dengan lagu mars pertama adalah Trikora (1961 –
1962). Yaitu konfrontasi dengan Belanda mengenai Papua bagian barat. Pasukan
dikirimkan dan satu kapal terpedo KRI Macan Tutul tenggelam. Pada akhirnya
kemenangan Indonesia diperoleh dari diplomasi dan perundingan, bukan dari
pertempuran operasi Trikora. Dengan demikian korban yang ikut tenggelam bersama
KRI Macan Tutul menjadi sia-sia. Papua bagian barat menjadi provinsi Indonesia
dengan nama Irian (Ikut Republik Indonesia Anti Netherland).
Tidak cukup dengan Trikora, sirkus baru perlu dibuat. Apalagi
kalau roti sudah semakin sulit diperoleh. “Kora” lain perlu dibuat, namanya
Dwikora (1962 – 1966), ganyang Malaysia. Ini dilandasi politik bebas aktif yang
dianut Indonesia, artinya politik yang bebas dan aktif mencampuri urusan negara
tetangga. Semenajung Malaya, Serawak, Sabah dan Singapura berniat membentuk
satu negara federasi Malaysia dan masuk ke dalam organisasi negara-negara
persemakmuran. Menurut ceritanya, hal inilah yang tidak berkenan dihati
Sukarno. Sukarno tidak suka Malaysia menjadi boneka imprialis Inggris. Apakah
itu adalah alasan yang sebenarnya atau masalah ekonomi, entahlah. Kalau dipikir
lebih jauh, apakah salah Malaysia jika mereka memutuskan untuk menjadi boneka
Inggris, seperti halnya Ukrania menggabungkan diri dengan Russia untuk
membentuk Uni Soviet (1922) atau Hawaii menjadi bagian Amerika Serikat tahun
1959 atau Irian menjadi bagian dari Indonesia.
Kalau anda mendengarkan pidato-pidato Sukarno yang sekarang
mudah diakses di Youtube, anda akan tahu kharisma dan kemampuan Sukarno untuk
mempengaruhi massa, sekalipun idenya absurd. Saya anjurkan pembaca untuk
mencari pidato Sukarno ketika mencanangkan program ganyang Malaysia. Potongan
pidatonya seperti berikut ini:
.........Eh engkau Malaysia, apa konsepsi yang engkau
berikan kepada umat manusia, apa konsepsi yang engkau berikan kepada rakyat di
Kalimantan Utara, atau rakyat di Malaya atau rakyat di Singapur? Apa konsepsi
yang engkau keluarkan?
Indonesia tegap mengeluarkan konsep Pancasila, Manipol
Usdek, Berdikari, Trisakti, Nasakom. Dan ini semuanya di Kairo, huduuh.....
dikagumi oleh rakyat disana.....
.... Demikian juga tatkala saya berkata beberapa tahun lalu:
“Go to hell with your aid.” Pada waktu itu orang Afrika: “It rang through
Africa.”
Saya tanya sekarang kepada Malaysia: “Apa? apa suaramu yang
membuat rakyat-rakyat di lain negara merasa rang, merasa menggelegar?”
Tidak ada. Malaysia adalah suatu negara, kalau boleh
dinamakan negara, tanpa konsepsi, suatu negara tanpa ideologi..........
Berbondong-bondong rakyat mendaftar menjadi sukarelawan
perang untuk dikirim ke Kalimantan Utara (Serawak dan Sabah), yang kemudian
dengan mudah tertangkap oleh pihak Malaysia.
Sukarno demikian bangganya dengan ide-idenya yang
dianggapnya besar. Tetapi tidak sampai 10 tahun setelah kejatuhannya, orang
sudah melupakan semua ide-idenya. Siapa yang masih ingat Trisakti,
Manipol Usdek? Dan Malaysia yang dikatakannya sebagai negara tanpa konsep,
ternyata bisa menjadi lebih makmur dari Indonesia, sehingga banyak orang
Indonesia yang mencari makan disana. Dipihak lain, Indonesia dengan ide-ide
brillian dari Sukarno, seperti Trisakti, Berdikari, Manipol Usdek dan Nasakom,
mengalami kehancuran ekonomi.
Pada saat ekonomi mandeg, apalagi mengalami kontraksi,
aktifitas dunia usaha melesu, kapital Belanda didepak keluar, maka yang bisa
dipajaki semakin sedikit. Pemasukan pajak berkurang. Tetapi sirkus-sirkus
seperti Asian Games di Jakarta, Ganefo, Conefo, Dwikora perlu biaya, seperti
halnya pegawai negri. Lebih-lebih untuk kabinet yang mentrinya berjumlah 100
orang (banyak). Dan bagi negara Indonesia, cari hutangpun sulit, karena para
pemilik uang, kaum kapitalis dimusuhi. Kata Sukarno: “Go to hell with your
aids”. Bagaimana jalan keluarnya?
Perlu uang? Takut rakyat memberontak karena dibebani dengan
pajak yang tinggi? Penyelesaiannya mudah saja. Selama terbuat dari kertas atau
bahan yang murah dan monopoli pencetakannya dan peredarannya di tangan
pemerintah, maka pemerintah tinggal mencetaknya saja. Mesin cetak uang berputar
dengan kecepatan penuh. Nilai uang dengan cepat merosot. Uang Rp 2.000
menjelang tahun 1964 bisa dipakai untuk belanja makan keluarga selama 2 hari,
nilainya merosot. Dan 4 tahun kemudian, tahun 1967, hanya bisa dipakai untuk
membeli sebungkus kwaci. Tabungan hancur. Alangkah mahalnya harga Trisakti,
Manipol Usdek, Berdikari, Nasakom dan Dwikora.
Hidup semakin sulit. Nasi harus dicampur jagung. Tiwul dan
gaplek menjadi biasa bagi sebagian masyarakat. Beras sintetis TEKAD (pellet
yang terbuat dari Tela, Katjang, Djagung) pernah diperkenalkan untuk mengatasi
kekurangan ini. Tetapi menghilang begitu saja, mungkin karena tidak ada bahan-bahan
untuk membuatnya. Kenapa susah-susah membuat pellet, kalau tela, gaplek bisa
dimakan langsung.
Kesulitan
hidup membuat mood masyarakat menjadi
terkotak-kotak. Dan akhirnya, ketika ada yang tidak bisa menahan diri
dan
memulai sesuatu yang drastis, yang menjadi pemicu segalanya maka
timbullah
kekacauan. Kejadian yang drastis itu terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965
pagi,
yaitu pembunuhan 6 orang jenderal dan seorang kapten angkatan darat,
yang
kemudian dikenal sebagai pahlawan revolusi (walaupun saat itu tidak ada
revolusi). Mayatnya dibuang di sebuah sumur tua di Lubang Buaya, Pondok
Gede. Yang
dituding sebagai pelakunya adalah Partai Komunis Indonesia (PKI)
berdasarkan kesaksian beberapa saksi yang melihat keberadaan beberapa
anggota Pemuda Rakyat saat aksi penculikan dan pembantaian berlangsung.
Selanjutnya pemburuan besar-besaran anggota-anggota PKI dan
antek-anteknya berlansung. Ada yang memang layak mati karena dosanya. Banyak
juga diantaranya adalah petani-petani biasa, buruh dan rakyat kecil yang tidak
tahu apa-apa tentang PKI; yang keanggotaannya hanya ikut-ikutan. Bahkan hanya
terdaftar saja. Mereka ditangkap, ada yang dibunuh dan banyak yang ditahan. Ada
yang memperkirakan 500.000 orang yang dituduh PKI dan antek-anteknya dibunuh.
Itu hanya perkiraan yang banyak disitir, tidak ada sensus dan pendataan tentang
jumlah yang sebenarnya.
Ekonomi
semakin parah dengan dihabisinya sebagian petani dan
buruh tani yang dituduh PKI. Makanan semakin langka. Pemerintah terpaksa
mendatangkan makan yang disebut bulgur yang didatangkan dari Amerika
Serikat. Bulgur adalah makanan hewan dari daerah Iran, Turki
dan Asia Tengah. Kalau memasaknya pandai, enak juga rasanya. Yang pasti,
bikin
kenyang. Pada masa ini, keluarga saya terpaksa membagi 1 telur untuk 4
orang. Padahal sebelumnya kami memakan 1 telur untuk 1 orang.
Diperkirakan kurs dollar Pasar Baru mencapai Rp 2.000 di
awal tahun 1964, kemudian melorot ke hampir Rp 5.000 di akhir 1964. Dan
akhirnya menjadi sekitar Rp 35.000 di akhir 1965. Ini dikenal sebagai inflasi
620% di jaman Sukarno. Kemudian di akhir tahun 1965 ini, rupiah disunat 3
nolnya, supaya tidak terlalu banyak nolnya. Pecahan Rp 1000 menjadi Rp 1 uang
baru. Di akhir masa kepresidenannya, tahun 1967, kurs dollar mencapai Rp150
(rupiah baru) per dollar. Sebungkus kecil kwaci adalah Rp 2 atau US$ 0,013.
Prestasi yang mengagumkan bagi Sukarno. Dalam masa 8 tahun (1959 – 1967) 99,97%
dari nilai riil rupiah terbabat habis dan hanya tersisa 0.03% saja.
Kolonialisme dan imperialisme yang dimusuhinya, rata-rata tidak sekejam ini
dalam hal menyengsarakan rakyat. Buktinya Malaysia yang dicap sebagai boneka
imperial Inggris bisa melaju lebih makmur dari pada Indonesia.
Kejatuhan Sukarno, sangat mengenaskan. Dia tersingkirkan,
dihinakan, paling tidak sampai 15 tahun setelah kematiannya. Juga keluarganya
mengalami kesulitan. Walaupun demikian, pengikut setianya masih ada.
Mengutip ucapan
Abraham Lincoln:
You can fool some of the people all of the time, and all of
the people some of
the time, but you can not fool all of the people all of the
time.
Kamu bisa menipu banyak orang sepanjang masa, dan semua
orang
untuk masa tertentu, tetapi kamu tidak bisa menipu semua
orang
selama-lamanya.
Sukarno yang bisa diibaratkan sebagai seorang salesman ulung
yang mampu menjual kulkas kepada orang Eskimo atau menjual tahi ayam seharga
coklat, pada akhirnya sebagian orang akan bertanya: Apakah kulkas dan tahi ayam
yang telah dibelinya layak dan ada gunanya? Ada masanya orang menjadi tidak
percaya kepada ide-ide brillian Sukarno karena tidak terbukti seperti yang
diadvertensikan. Sebagian masih percaya, bahkan sampai sekarang. Itu pokok
ucapan Lincoln. Dan pada saat mulai banyak orang menjadi tidak percaya,
muncullah politikus baru untuk mempergunakan kesempatan. Dan lahirlah rejim
baru, periode baru dan jaman baru. Tetapi inti proses dan isinya sama, hanya
pelaku-pelakunya yang berbeda. Sejarah berulang kembali dengan pelaku-pelaku
yang berbeda.
Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak
pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan
dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung
jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari
tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di
tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.
Read more:
-----***-----
-----***-----
